Sabtu, 16 Juli 2011

PUTIH DAN ABU ABU



Pagi ini aku kembali membuka mata di ruangan yang telah kutempati lebih dari satu bulan. Hidup bersama orang orang berpakaian putih dengan alat alat yang menempel di sekujur tubuhku. Aku hanya makan semangkuk bubur dan obat obatan yang tak henti hentinya diberikan kepadaku. Ayah dan adik laki laki kecilku selalu menjagaku di sini,di samping tempat tidurku. Mereka masih memejamkan mata ketika aku bangun pagi ini. Tiba tiba aku tergerak untuk berjalan keluar dari kamarku. Berjalan menyusuri lorong yang masih terlihat sepi. Kaki ini menyeretku sampai di taman dekat kamarku. “ah segarnya udara pagi ini. Sudah lama tidak menghirup udara bebas seperti ini,
1 menit,10 menit,30 menit,I jam. Sudah I jam aku disini,dan aku mulai kedinginan. Aku memang tidak memakai jaket atau penghangat lainnya. Yang aku pakai hanya baju pasien berwarna abu abu yang membuatku semakin kehilangan semangat untuk melawan penyakit ini.
Sekali lagi trimakasih dokter Arya,”kataku ketika kita –aku dan dokter Arya- sampai di depan kamarku. “Sama sama,”katanya sambil tersenyum.
Rumah sakit ini kini menjadi tempatku bermain. Menghibur diri sendiri dengan berjalan mengelilingi ruang demi ruang dan lorong demi lorong –tentu saja setelah ayah mengijinkanku untuk keluar dari kamar,tidak seperti burung dalam sangkar-
Pagi ini aku bertemu dokter Arya lagi. Dalam sebulan terakhir ini aku semakin sering bertemu dengannya setelah dia menjadi dokter yang mengurus semua jadwal terapiku. Dia benar benar menjadi orang yang terpenting dalam hidupku. Dan belakangan ini aku mulai membaik. Rasa mual akibat terapi yang kulakukan semakin jarang kurasakan. Dan aku mulai semangat melawan penyakit menyebalkan ini.
Setelah beberapa minggu,hari ini jadwalku terapi lagi. Aku menunggu dokter Arya datang. Hampir 1 jam,tapi dokter tak terlihat. “Sukma,sedang apa kamu di sini?,”tanya seorang suster. Ya,hampir semua suster di sini mengenalku. “menunggu dokter Arya,suster,”kataku. Suster itu datang mendekat “jadi kamu belum tahu kalau dokter Arya dipindahtugaskan?” mendengar itu aku hanya terdiam,dia pergi. Dia tidak memberitahuku sama sekali.
Sejak dokter Arya pergi,semangatku hilang kembali. Aku juga semakin malas pergi keluar kamar dan terapi. Akibatnya,keadaanku kembali memburuk. Saat hujan turun dengan sangat deras,di saat itulah aku tak bisa mempertahankan hidupku.
1 bulan kemudian,dokter Arya kembali. Dia berlari menuju kamarku. Kosong. Tak ada orang di sana. Tiba tiba,seorang suster mendekat “cari siapa dok?”tanya suster itu. “pasien bernama Sukma sudah sembuh?”tanya dokter Arya. Tubuh dokter Arya seperti kehilangan penyangga saat suster itu berkata bahwa Sukma telah pergi. Tidak percaya. Itulah yang dirasakan dokter Arya saat mendengar itu. "Maafkan aku Sukma".
Yap inilah salah satu cerpen yang kubuat sama temenku waktu ngerjain tugas sekolah.Dengan sedikit perubahan di sana ini tentunya
semoga terkesan ^^


0 komentar:

Posting Komentar